“Hukum Karma”

LUAR biasa, ingar bingar pertandingan final antara Persib Bandung melawan PSMS Medan pada Kompetisi Divisi Utama PSSI tahun 1982 dan 1984. Penonton meluber hingga ke pinggir lapangan di Stadion Utama Senayan Jakarta. PSSI pun meraup keuntungan besar dari hasil penjualan tiket.

Konon, itu menjadi rekor dunia untuk sebuah pertandingan sepak bola yang disaksikan sekitar 120 ribu penonton di sebuah stadion. Badan sepak bola dunia, FIFA, pun mencatat, tidak ada sebuah pertandingan sepak bola yang disaksikan langsung di stadion dengan penonton seperti itu. Hebatnya, tanpa ada kerusuhan karena tim dan pendukung Persib yang saat itu kalah adu penalti, menerima dengan sportif. Itu sejarah manis dunia sepak bola kita.

Kini, sejarah baru kembali dicatat sepak bola Indonesia. Bukan prestasi, bukan pula membeludaknya penonton ke pinggir lapangan. Akan tetapi, rekor pertandingan tanpa penonton. PSSI harus menggelar pertandingan final antara PSMS Medan melawan Sriwijaya FC Palembang tanpa penonton. Ini sejarah baru di dunia sepak bola. Bukan saja di Indonesia, melainkan juga dalam catatan sepak bola dunia.

Sebuah catatan kelabu yang mungkin akan selalu diingat oleh insan sepak bola. Lewat sejarah, khususnya sejarah sepak bola, anak cucu kita juga akan tahu, final Liga Indonesia 2007 antara PSMS melawan Sriwijaya FC dilakukan tanpa penonton.

Pasti, halak kita pendukung PSMS akan kecewa. Wong kito suporter Sriwijaya FC juga pasti akan merasakan hal sama, tak bisa mendukung langsung di Stadion Si Jalak Harupat karena pertandingan dilakukan secara tertutup. Antusiasme pun harus diredam dengan tayangan langsung ANTV.

Bukan tanpa sebab, kalau pihak keamanan hanya mengizinkan pertandingan final harus dilakukan tanpa penonton. Kalau saja partai semifinal yang berlangsung di Stadion Utama Senayan Jakarta tanpa kerusuhan, pasti final itu akan dilangsungkan di sana. Seandainya saja seorang Jakmania, M. Fathul, tidak tewas dengan sia-sia pada usia muda, PSSI pun masih bisa meraup untung dari hasil penjualan tiket.

Boleh jadi, ini merupakan “hukum karma” bagi PSSI. Selama ini, PSSI begitu gencar memberikan sanksi kepada panitia pelaksana (panpel) di daerah. Seolah PSSI yang paling benar, manakala memberikan sanksi kepada klub, pemain, panpel, wasit, atau siapa pun yang dianggap melakukan pelanggaran.

Rasanya, kita sudah tidak asing lagi, mendengar pengumuman Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan sanksi. Ada pemain dari klub A diberi sanksi. Kemudian, ada panpel yang harus menyelenggarakan pertandingan tanpa penonton dan didenda puluhan juta. Terus dan terus seperti itu terjadi, selama Liga Indonesia sejak 1991 hingga 2007 berlangsung.

Akan tetapi, selama itu tak ada yang mampu menyentuh PSSI. Padahal, berkali-kali pertandingan yang panitianya dilakukan PSSI, berlangsung dengan buntut kericuhan dan kerusuhan. Misalnya, pada final Liga Indonesia 2005 lalu, saat pertandingan Persipura melawan Persija di Stadion Utama Senayan Jakarta. Ujungnya juga terjadi kericuhan penonton. Terjadi di depan hidung pengurus PSSI di dalam stadion. Pada semifinal Copa Dji Sam Soe 2007 lalu juga ada kerusuhan yang dilakukan Jakmania di luar stadion.

Tanpa ada sanksi kepada PSSI, seolah-olah PSSI bersih dan tanpa kesalahan. Meski kritik datang secara bertubi-tubi, semuanya tidak digubris. PSSI tetap berada di pihak yang benar!

Menarik sekali, apa yang dikatakan Ketua Umum KONI Pusat Rita Subowo, ketika diwawancarai oleh stasiun Radio Elsinta. Ia mengatakan, PSSI harus berkaca dari semua kejadian ini. Menurut Rita, PSSI harus berbenah lagi memperbaiki diri, termasuk dalam organisasinya. PSSI juga harus mau menerima saran dan kritik dari siapa pun.

Memang betul, apa yang dikatakan Rita Subowo. PSSI sepertinya tidak pernah mau menerima saran dan masukan. Dalam masalah Ketua Umum PSSI Nurdin Halid yang mendekam di penjara pun, PSSI tetap merasa tidak melanggar aturan. Walaupun, FIFA dan AFC sudah menyarankan agar segera dilakukan pergantian.

Kini, sanksi itu sudah datang kepada PSSI. “Hukum karma” tampaknya akan segera berlaku. Meski dirasakan memalukan dunia sepak bola kita, sanksi seperti itu pantas diterima PSSI yang selama ini dinilai arogan.

Selama ini, PSSI selalu berlindung dibalik aturan, meski “aturan main” lain juga terjadi dalam law enforcement yang mereka lakukan. Semoga kasus ini bisa membuka hati PSSI untuk memperbaiki diri dan tidak terjadi lagi di masa mendatang. Cukup sekali ini saja, “rekor kelabu” itu terjadi. (Nanang Setiawan/”PR”)***