Suporter Masih Saja Berulah

BANDUNG, (PR).-
Bibit-bibit kerusuhan seakan enggan pergi mewarnai perhelatan LI. Sekelompok suporter beratribut warna biru, berulah dengan melakukan pelemparan kepada ratusan penonton yang sedang mengikuti pertandingan final Liga Indonesia melalui layar besar di areal Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kab. Bandung. Suasana pun menjadi kacau.

Beruntung, penonton yang diserang tidak melakukan aksi balasan. Mereka memilih merapat ke barisan aparat keamanan untuk berlindung. Aparat pun bertindak untuk menghalau suporter yang berulah itu, hingga pergi meninggalkan lokasi.

Ratusan penonton yang berkumpul menyaksikan pertandingan di layar lebar tersebut, merupakan pendukung Sriwijaya FC dan PSMS Medan. Tidak sedikit di antara mereka yang sengaja datang jauh-jauh dari Palembang, Medan, dan kota-kota lainnya. Beberapa di antaranya mengaku tidak mengetahui jika pertandingan tersebut digelar tanpa penonton.

Mereka sempat berkerumun di depan pintu barat Stadion Si Jalak Harupat, meminta agar diizinkan masuk untuk menyaksikan partai tersebut. Semula, aparat keamanan bisa menahan massa. Namun, dua menit pertandingan berjalan, pintu selatan jebol. Sejumlah pendukung berhasil menerobos masuk. Beruntung, 15 menit kemudian pihak keamanan mampu mengusir mereka kembali ke luar stadion.

Saat istirahat turun minum, petugas juga melakukan sweeping di tribun barat yang dipenuhi wartawan peliput. Mereka yang tidak memiliki identitas resmi, dipersilakan ke luar untuk menyaksikan di tiga layar lebar yang telah disediakan panitia di arena stadion.

Partai puncak liga yang telah berlangsung hampir satu tahun itu, sebelumnya telah diputuskan berjalan tanpa penonton. Sayang, kebijakan yang diambil untuk pertama kalinya dalam sejarah final liga itu tidak bisa tersiar dengan baik, karena baru diumumkan secara resmi Minggu (10/2) dini hari.

Akibatnya, tidak banyak orang yang mengetahui karena saat diumumkan deadline sebagian besar media cetak telah terlampaui. Ratusan pendukung kedua tim pun terlanjur datang ke Stadion Si Jalak Harupat. Bahkan, walaupun pertandingan dijadwalkan berlangsung pukul 19.00 WIB, banyak yang telah berdatangan sejak pukul 12.00 WIB.

Para suporter ini harus menelan kekecewaan. Mereka dilarang masuk dan terpaksa menyaksikan pertandingan dari layar lebar, yang disediakan panitia di dekat pintu masuk stadion.

Partai puncak divisi utama itu, sebenarnya dijadwalkan berlangsung Sabtu (9/2) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Namun, insiden yang menewaskan seorang penonton, membuat Mennegpora Adhyaksa Dault meminta agar laga tidak dilangsungkan di Jakarta.

Kemunduran

Gelaran partai final Liga Djarum Indonesia XIII/2007 yang berlangsung tanpa penonton, merupakan puncak dari ketidakberesan PSSI dalam menggelar ajang kompetisi tahunan tersebut. Ini kemuduran besar dunia sepak bola Indonesia, termasuk PSSI, sebagai lembaga yang memayunginya.

“Ini yang pertama terjadi di dunia. Satu puncak kompetisi digelar tanpa kehadiran penonton. Bukan hanya sangat mengecewakan dan memalukan, lebih dari itu ini merupakan kemunduran besar yang mencoreng persepakbolaan tanah air,” kata pengamat sepak bola asal Bandung Risnandar Soendoro, Minggu (10/2).

Seharusnya, menurut dia, kebijakan yang diambil tidak mengecewakan pecinta sepak bola di tanah air, khususnya pendukung finalis Sriwijaya FC dan PSMS. Apalagi, final LI 2007 merupakan puncak prestasi dan kebanggaan tersendiri bagi daerah asal tim yang lolos sebagai finalis musim ini.

“Hampir semua pihak menyoroti masalah ini hanya dari satu sisi, yaitu ketidaktertiban suporter yang kerap melakukan aksi anarkis. Padahal, semua ini puncak dari berbagai permasalahan yang mewarnai pelaksanaan LI 2007. Sejak awal, banyak ketidakberesan yang terjadi,” kata Risnandar.

Ia mencontohkan, mulai dari seringnya penundaan jadwal pertandingan hingga pemunduran jadwal semifinal. Itu belum termasuk masalah lain, seperti kinerja perangkat pertandingan, kasus mafia perwasitan, hingga sejumlah keputusan BLI dan PSSI yang kerap kontroversial dalam menyelesaikan permasalahan.

“Masalah yang mewarnai liga musim ini memang cukup pelik. Namun, sekarang bukan saatnya mencari kambing hitam. Kita tutup buku musim ini dan menjadikan semua masalah yang terjadi, sebagai cerminan di masa yang akan datang,” ujarnya. (A-150/A-65)***