BRASIL, (GM).-

Striker Brasil, Ronaldo, yang mengalami cedera kaki merasa terpanggil dengan gemuruh penonton sambil menantikan pesta pora kemenangan tim kesayangannya.

Ronaldo pun siap bertempur melawan Cile. Ia mengatakan, rasa nyeri akibat cedera tidak cukup menahan lajunya untuk turun bertanding bersama rekan sesama tim.

Ronaldo mengalami cedera kaki kiri ketika mengikuti pertandingan Serie A bersama AC Milan melawan Livorno, Februari lalu. Sembilan bulan beristirahat, itulah ganjarannya.

“Secara klinis kaki saya sudah sembuh. Sekarang saya butuh waktu untuk melatih fisik saya agar kembali seperti semula dalam kondisi seorang atlet,” kata pemain berusia 31 tahun itu kepada wartawan, ketika mulai menjalani program rehabilitasi di klub Brasil, Flamengo.

“Ini merupakan bagian yang paling menyakitkan bagi seorang atlet, karena harus memulai masa persiapan sebelum latihan dengan lebih banyak latihan gerak badan,” katanya seperti dikutip Reuters.

“Semua yang ada dalam pikiran saya adalah bertanding. Jika tidak, saya tidak akan menjalani semua pengorbanan dan rasa nyeri ini,” katanya.

Cedera itu sama dengan dua cedera di kaki kanannya yang pernah terjadi sebelumnya. Ketika itu, Ronaldo bangkit lagi dan membawa Brasil memenangi Piala Dunia 2002.

“Saya sudah menjalani latihan sebagai atlet selama 16 tahun, jadi saya kira semua yang menyatakan ‘Ronaldo kelebihan berat badan’ adalah absurd,” kata Ronaldo, yang Mei lalu mengatakan ia kelebihan berat badan delapan kilo.

“Logikanya saya ya memang kelebihan berat badan. Apakah ada yang menyangsikannya? Saya cedera dan tidak melakukan gerakan apa pun selama enam bulan,” tambahnya.

Ronaldo mengatakan ia belum memikirkan untuk bergabung dengan klub baru.

“Saya sudah menerima beberapa kontak dan beberapa proyek tetapi saya saat ini lebih fokus kepada penyembuhan cedera saya,” katanya.

“Saya menghormati semua orang yang memerhatikan saya tetapi saya belum membayangkan ke mana saya akan bermain di masa depan saya,” katanya.

Ronaldo dan lonceng katedral menghardik kesadaran bahwa hidup adalah kontradiktif, memikat serentak menakutkan. Seperti dentang lonceng, mengingatkan serentak mengimbau setiap insan untuk sujud syukur. (B.94/net)**